Koran Online, SORONG –Papua Barat Daya – Ribuan umat Muslim memadati Alun-Alun Aimas, Kabupaten Sorong, Kamis pagi (6/6/2025) untuk melaksanakan Salat Idul Adha. Suasana khusyuk dan hangat terasa sejak pagi hari saat masyarakat lintas suku dan daerah datang bersama untuk merayakan hari besar umat Islam ini.
Acara dimulai dengan sambutan dari Bupati Sorong, Johny Kamuru, yang menekankan bahwa Idul Adha adalah momen spiritual sekaligus sosial. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan hari raya ini sebagai momentum mempererat rasa persaudaraan dan toleransi.
“Idul Adha mengajarkan kita makna pengorbanan dan keikhlasan. Tapi lebih dari itu, ini adalah panggilan untuk saling peduli. Di tanah Papua yang beragam ini, kita harus terus menjaga harmoni dan kebersamaan,” ucap Johny Kamuru.
Yang menarik perhatian, Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, didapuk sebagai khatib Idul Adha, dan beliau menyampaikan ceramah dengan sentuhan unik: menggunakan bahasa Jawa dalam sebagian isi khutbahnya. Hal ini mengundang antusias dan senyum dari para jamaah, khususnya warga perantauan dari Jawa.
Dalam khutbahnya, Wakil Gubernur mengangkat lima makna utama Idul Adha, yang disampaikan dalam bahasa Jawa sebagai bentuk penghargaan terhadap keberagaman budaya:
1. Taat marang dhawuhé Gusti Allah
“Kados Nabi Ibrahim AS, kita kudu tansah manut lan taat, senadyan perintahé abot lan ora gampang ditindakake.”2. Ikhlas nalika ngorbanake
“Idul Adha maringi piwulang supaya kita gelem ngorbanake hawa nafsu, kepinginan donya, lan banda kanthi ikhlas amarga Allah.”3. Ndidik anak nganggo iman sing kuat
“Kados Nabi Ismail AS, anak sing ndadekake iman minangka dasar uripe bakal gampang manut marang kebenaran.”4. Semangat berbagi lan peduli marang liyan
“Kurban dudu mung sembelih kéwan, nanging uga tandha rasa tresna lan peduli marang wong kang butuh.”5. Nggatekaké dhiri (muhasabah)
“Wektu kang pas kanggo ngetung: wis apa durung kita ngorbanake apa wae kanggo Gusti Allah lan masyarakat?”
Beliau juga menekankan bahwa keberagaman di Papua Barat Daya harus terus dijaga dengan rasa saling menghormati dan menghargai. “Bahasa boleh beda, asal kita satu hati dalam iman lan rasa tresna marang sesama,” ucapnya menutup khutbah.

Setelah salat dan khutbah, panitia pelaksana segera memulai prosesi penyembelihan hewan kurban. Tahun ini, tercatat sebanyak 55 ekor sapi dikurbankan dan dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk kaum dhuafa dan yatim piatu.
Perayaan Idul Adha di Alun-Alun Aimas kali ini bukan hanya menjadi ajang ibadah, tetapi juga menjadi simbol toleransi, persatuan, dan penghormatan terhadap keberagaman budaya dan bahasa di Papua Barat Daya.(ARY)


















































