Koran Online, SORONG -Di Kampung Yeflio, Distrik Mariat, sagu bukan sekadar pangan tradisional. Sagu adalah identitas, sumber hidup, sekaligus penopang ekonomi masyarakat adat Suku Moi. Pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mencoba masuk ke ruang paling dasar dengan kebijakan yang menyentuh langsung alat produksi dan pengetahuan warga.
Pada Minggu (14/12/2025), pemerintah menyalurkan bantuan alat pengolahan sagu kepada masyarakat adat di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Bantuan ini diterima oleh Zakarias Kokmala, Sekretaris Lembaga Musyawarah Adat (LMA) Kabupaten Sorong, mewakili warga Suku Moi di Kampung Yeflio dan Kampung Walal.
Paket bantuan tersebut mencakup empat unit mesin parut sagu, mesin babat rumput, terpal, parang, kapak, serta perlengkapan kerja lainnya. Pemerintah juga menyertakan modal pembinaan usaha, yang diarahkan untuk memperkuat pengelolaan produksi sagu secara berkelanjutan.
Zakarias mengatakan, kehadiran alat modern menjawab kendala utama masyarakat adat selama ini. “Kami mengolah sagu secara tradisional, itu butuh waktu lama dan tenaga besar. Dengan mesin parut, produksi bisa lebih cepat dan hasilnya lebih banyak,” kata Zakarias saat ditemui di Distrik Mariat.
Menurut dia, kebijakan Presiden Prabowo menunjukkan perubahan pendekatan pembangunan di Papua. “Yang kami rasakan sekarang, pemerintah tidak hanya bicara pembangunan besar, tapi masuk ke kebutuhan paling dasar masyarakat adat. Ini yang kami apresiasi,” ujarnya.
Ia menyebut bantuan tersebut bukan sekadar alat, melainkan pengakuan atas ekonomi lokal yang selama ini bertumpu pada sagu. “Sagu ini hidup kami. Ketika negara hadir memperkuat sagu, artinya negara hadir dalam kehidupan masyarakat adat,” kata Zakarias.
Zakarias menilai program ini akan berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga. Dengan meningkatnya produksi dan nilai jual sagu, masyarakat memiliki peluang pendapatan yang lebih stabil. “Target kami sederhana: ekonomi keluarga membaik, anak-anak bisa sekolah, dan generasi muda tidak meninggalkan kampung,” tuturnya.
Ia juga menegaskan pentingnya pendampingan berkelanjutan. “Kami berharap pemerintah terus mendampingi, bukan hanya memberi alat. Pembinaan dan manajemen usaha juga penting agar masyarakat benar-benar mandiri,” katanya.
Pemerintah pusat memandang penguatan pangan lokal sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan nasional yang berkeadilan. Di Papua Barat Daya, sagu diposisikan bukan sebagai komoditas pinggiran, melainkan sebagai kekuatan ekonomi berbasis kearifan lokal.
Program pengolahan sagu ini sekaligus diarahkan untuk memperkuat kemandirian masyarakat adat dalam mengelola sumber daya alamnya sendiri. “Kami ingin masyarakat Moi mengelola, memproduksi, dan menikmati hasilnya sendiri,” ujar Zakarias, menirukan pesan yang disampaikan pemerintah dalam penyaluran bantuan tersebut.
Di Kampung Yeflio, mesin parut sagu kini berdiri berdampingan dengan hutan sagu yang telah diwariskan turun-temurun. Bagi masyarakat Suku Moi, bantuan ini menjadi penanda bahwa kebijakan Presiden Prabowo mulai menyentuh ruang hidup paling dekat dengan mereka dari dapur, ladang, hingga masa depan generasi berikutnya.(AMN)


















































