Koran Online, SORONG – Maraknya tindak kriminalitas di Kota Sorong, Papua Barat Daya, menjadi perhatian serius anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Robert Joppy Kardinal. Ia menilai, persoalan ini bukan sekadar urusan keamanan, tetapi telah menyentuh aspek paling mendasar dalam kehidupan sosial: rasa aman dan tenang di tengah masyarakat.
“Ini bukan semata tentang kriminalitas, tapi soal kenyamanan warga. Ketika kekerasan menjadi hal yang biasa terjadi di lingkungan kita, maka kita sedang menghadapi krisis sosial yang dalam,” kata Robert dalam keterangannya, Senin (21/07/25)
Robert menyoroti fenomena mengkhawatirkan yang kian menonjol dalam berbagai kejadian kriminal belakangan ini yaitu keterlibatan anak dan remaja, baik sebagai pelaku maupun korban. Bagi dia, fakta ini merupakan alarm keras bahwa ada yang keliru dalam sistem pengawasan dan pembinaan generasi muda di Sorong.
“Ketika anak-anak sudah mulai terlibat dalam aksi kriminal, artinya bukan hanya aparat yang harus turun tangan. Ini sudah menjadi tanggung jawab bersama keluarga, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, semua,” ujarnya.
Menurut Robert, penegakan hukum saja tidak cukup. Ia menekankan pentingnya pendekatan sistemik yang mampu menyentuh akar persoalan. Salah satunya, pengawasan ketat terhadap peredaran minuman keras (miras) dan zat adiktif seperti lem aibon yang kerap disalahgunakan oleh anak-anak jalanan.
“Kita tidak bisa terus menutup mata. Miras dan bahan-bahan berbahaya itu mudah diakses oleh anak-anak. Ini menciptakan ruang yang subur bagi kekerasan dan kriminalitas. Pemerintah daerah harus tegas dan hadir dalam pengawasan,” tegasnya.
Lebih dari itu, Robert mendorong agar perhatian terhadap generasi muda tidak hanya berwujud larangan atau represi. Ia menyarankan pemerintah menciptakan lebih banyak ruang kegiatan positif yang mampu menyalurkan energi, bakat, dan kreativitas anak muda.
“Anak-anak kita perlu diajak dalam kegiatan yang membentuk karakter. Bisa melalui olahraga, seni, budaya, atau pelatihan keterampilan. Jangan biarkan mereka tumbuh dalam kekosongan arah,” ucapnya.
Ia pun berharap agar seluruh elemen daerah bersatu dan bersinergi, bukan hanya bereaksi saat masalah muncul, tetapi juga secara proaktif membangun ekosistem yang mencegah kekerasan sejak dini.
“Jika semua berjalan sendiri-sendiri, kita hanya akan sibuk memadamkan api, bukan mencegah kebakaran. Kita harus duduk bersama dan cari solusi jangka panjang. Harapan saya, dengan sinergi dan kesungguhan, Kota Sorong bisa menjadi lebih aman, damai, dan layak ditinggali,” pungkasnya. (Andre)


















































