Koran Online,SORONG– Pemberdayaan perempuan terus mendapat ruang dalam kehidupan sosial masyarakat Moi. Hal itu tampak dalam Pelatihan Tata Boga (Beraneka Kue) yang digelar oleh Kwongke Kaban Salukh Moi Ranting Aimas, Sabtu (04/10/25), di Kelurahan Aimas, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong.
Kegiatan ini menghadirkan puluhan perempuan Moi yang antusias mempelajari teknik dasar hingga lanjutan dalam membuat kue, mulai dari kue tradisional khas Papua hingga olahan modern yang banyak diminati pasar.

“Pelatihan ini bukan sekadar belajar resep, tetapi membuka jalan bagi perempuan Moi untuk mengembangkan usaha kecil berbasis kue dan makanan olahan. Dengan keterampilan ini, kita bisa menciptakan kemandirian ekonomi dan mendukung keluarga,” ujar tokoh perempuan moi Sarlota Mobalen Malagam.
Selain itu, pelatihan tata boga ini menjadi sarana memperkuat nilai budaya Moi. Sejumlah jenis kue tradisional diperkenalkan kembali agar tidak hilang ditelan zaman. Para peserta diajak mengolah bahan-bahan lokal seperti sagu, keladi, dan pisang menjadi kudapan bernilai jual.

Menurut panitia, keterampilan membuat kue bisa menjadi pintu masuk bagi perempuan Moi untuk membuka usaha rumah tangga, katering, hingga pemasaran berbasis digital. “Hari ini kita belajar tekniknya. Besok, kita harus mulai memikirkan bagaimana memasarkan produk ini, sehingga menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan,” katanya.
Pelatihan yang berlangsung sehari penuh ini diselingi sesi praktik langsung, di mana peserta dibimbing membuat kue lapis, brownies, bolu kukus, hingga kue kering yang bisa dipasarkan pada momentum hari raya atau acara adat.

Lebih jauh, kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah awal terbentuknya kelompok usaha perempuan Moi di Aimas. Dengan adanya kelompok ini, para ibu tidak hanya berperan sebagai pengelola rumah tangga, tetapi juga aktor ekonomi produktif yang memberi kontribusi nyata bagi kesejahteraan keluarga dan komunitas.
“Perempuan Moi punya peran penting dalam membangun generasi. Melalui kue dan usaha boga, kita tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga membangun masa depan ekonomi yang lebih baik,” ungkap salah satu tokoh perempuan Moi yang hadir.


















































