Koran Online, SORONG – Operasi Dofior 2025 yang digelar oleh Satuan Lalu Lintas Polres Sorong bukan hanya sekadar penegakan aturan berlalu lintas, tetapi juga menjadi ruang edukasi dengan pendekatan yang lebih humanis kepada masyarakat, khususnya para pengendara dan pedagang di wilayah kota.
Kegiatan yang dikenal masyarakat sebagai “swiping” ini menyasar sejumlah titik rawan pelanggaran lalu lintas, termasuk kawasan pasar tradisional yang kerap menjadi tempat konsentrasi pelanggaran ringan. Namun, berbeda dari kesan represif yang kerap melekat pada operasi semacam ini, anggota Satlantas Polres Sorong justru tampil dengan pendekatan yang persuasif, ramah, dan edukatif.
Agus, seorang pedagang ikan di kawasan pasar, mengaku nyaman saat didatangi petugas. “Saya kira awalnya akan dimarahi, tapi ternyata mereka menegur dengan bahasa yang sopan dan enak didengar. Saya juga sudah lengkap, SIM dan STNK ada, jadi saya senang bisa ikut tertib tanpa rasa takut,” ujarnya.

Sementara itu, pengalaman berbeda datang dari Sarmin, pedagang lainnya, yang mengakui melakukan beberapa pelanggaran. Meski demikian, ia mengaku tetap merasa dihargai karena pendekatan petugas yang tidak serta-merta menjatuhkan sanksi.
“Saya memang salah, ada yang saya langgar. Tapi karena polisi lihat saya masih banyak jualan dan belum bisa tinggalkan lapak, saya hanya diberi teguran keras, diminta segera melengkapi surat-surat. Itu sangat manusiawi menurut saya,” kata Sarmin.
Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Sorong, AKP Jopi Kewilaa, membenarkan bahwa dalam pelaksanaan operasi, petugas di lapangan tetap mengacu pada aturan hukum yang berlaku, namun tidak meninggalkan sisi kemanusiaan.
“Penegakan aturan tetap dilaksanakan. Siapa pun yang melanggar, pasti ditindak. Tapi dalam praktiknya, kami berikan ruang kebijakan sesuai situasi di lapangan. Polisi juga manusia, punya hati dan welas asih. Bila pelanggaran ringan dan situasinya tidak memungkinkan, teguran bisa jadi langkah terbaik tanpa mengurangi wibawa hukum,” jelas AKP Jopi.
Ia menambahkan bahwa pendekatan ini justru menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian, sekaligus menjadi bagian dari pembinaan masyarakat agar sadar dan taat aturan tanpa tekanan.

Operasi Dofior 2025 akan terus berlangsung selama beberapa pekan ke depan, menyasar wilayah-wilayah strategis di Kabupaten Sorong. Selain razia kelengkapan surat kendaraan, operasi ini juga menyentuh aspek keselamatan berkendara, penggunaan helm, dan disiplin lalu lintas lainnya.
Dengan pendekatan yang lebih persuasif dan beradab, operasi kali ini diharapkan menjadi transformasi wajah pelayanan Polri dari penegak hukum semata menjadi mitra masyarakat yang peduli, edukatif, dan bermartabat.


















































