Koran Online, SORONG– Bunyi peluit mulai bersahutan sejak pukul 08.00 WIT, menandai dimulainya operasi gabungan di kawasan Alun-Alun Aimas, Kabupaten Sorong, Jumat pagi (25/7/25). Satu per satu kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat diarahkan masuk oleh petugas. Operasi yang merupakan bagian dari Operasi Dofior 2025 itu berlangsung cukup dinamis, bahkan bisa dibilang penuh drama.
Hal ini karena terpantau media ini dimana beberapa pengendara tampak berusaha menghindari pemeriksaan dengan berbagai cara yang kalau tidak lucu ya patut diacungi jempol karena kreatif. Ada yang pura-pura membeli pulsa di konter pinggir jalan, ada pula yang seolah-olah sedang mengantri nasi kuning sarapan. Tak sedikit juga yang berpura-pura motornya mogok tepat sebelum masuk titik razia. Tapi, seperti kata pepatah: “Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya kena tilang juga.”
Tak butuh waktu lama, hanya berselang 10 menit, puluhan kendaraan sudah memadati area razia. Beberapa di antaranya langsung diarahkan menuju meja tilang karena kedapatan melanggar aturan dari tidak memakai helm, tidak membawa SIM dan STNK, hingga pelat kendaraan yang mati.

Operasi ini melibatkan personel gabungan dari Satuan Lalu Lintas Polres Sorong, Polisi Militer Angkatan Darat (POMAD), dan Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kabupaten Sorong. Masing-masing bertugas sesuai peran dan kewenangan mereka. Tim dari Dispenda misalnya, fokus pada pajak kendaraan dan keabsahan STNK, sementara POMAD mengawasi ketertiban anggota TNI.
Yang menarik, operasi ini tidak pandang bulu. Tak hanya masyarakat sipil, beberapa anggota TNI pun terjaring razia. Salah satunya bahkan kedapatan tidak membawa surat kendaraan lengkap. Dengan sigap, POMAD langsung mengambil tindakan disipliner. Ini membuktikan bahwa Operasi Dofior 2025 benar-benar diberlakukan secara adil tanpa pandang seragam ataupun jabatan.

Menurut Kasatlantas Polres Sorong, AKP Jopi Kewilaa, operasi ini merupakan bagian dari rangkaian penertiban dan edukasi yang terus digencarkan pihaknya. “Kami tidak sekadar menilang, kami juga rutin melakukan edukasi di sekolah-sekolah, tempat ibadah, hingga komunitas-komunitas warga. Tapi sayangnya, masih banyak yang abai terhadap aturan lalu lintas,” ujarnya.
Ia menyayangkan masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam berlalu lintas. Pelanggaran seperti tidak memakai helm, membawa kendaraan tanpa surat lengkap, atau berkendara ugal-ugalan bisa berujung pada risiko yang fatal baik bagi diri sendiri maupun pengguna jalan lain.
“Keselamatan itu bukan soal keberuntungan, tapi soal kepatuhan,” tegas Jopi.

Operasi Dofior 2025 masih akan terus digelar secara berkala di sejumlah titik di wilayah Sorong. Harapannya, tidak hanya untuk menertibkan pengendara yang melanggar, tetapi juga untuk menanamkan budaya tertib lalu lintas sejak dini. Karena di jalan raya, satu kesalahan kecil bisa berdampak besar.
Dan buat Anda yang masih suka pura-pura beli pulsa pas lihat razia di depan, lebih baik siapkan surat-surat lengkap dan patuhi aturan karena razia berikutnya mungkin tidak lagi bisa Anda “akali” dengan alasan klasik.(AR)


















































