Koran Online,SORONG-Kepedulian pemerintah pusat kembali menyentuh masyarakat di pedalaman Papua Barat Daya. Awal Desember ini, Kampung Fafi di Kabupaten Sorong menerima bantuan usaha berupa dua ekor sapi yang ditujukan untuk dikembangkan sebagai modal pemberdayaan ekonomi masyarakat kampung. Bantuan ini diserahkan langsung kepada Kepala Kampung Fafi, Safarius Sagisulu, yang menyambutnya dengan penuh optimisme.Kamis (04/12/25)
Penyerahan dua ekor sapi itu bukan sekadar simbol dukungan, melainkan bagian dari program penguatan ekonomi kerakyatan yang saat ini menjadi perhatian pemerintah pusat. Kampung Fafi, yang sebagian besar masyarakatnya masih menggantungkan hidup pada pertanian dan peternakan sederhana, dipandang sebagai wilayah yang potensial untuk pengembangan usaha ternak sapi skala kampung.
Safarius Sagisulu tidak dapat menyembunyikan rasa harunya saat menerima bantuan tersebut. Ia menyebut bantuan ini sebagai “angin segar” bagi masyarakatnya yang selama ini ingin mengembangkan usaha peternakan namun terkendala modal dan fasilitas. “Kami masyarakat Kampung Fafi merasa sangat bersyukur. Bantuan dua ekor sapi ini bukan hanya binatang ternak, tetapi sebuah harapan baru. Pemerintah pusat benar-benar melihat kami di kampung yang jauh dari kota,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dua sapi itu akan dikelola secara kolektif melalui kelompok usaha masyarakat yang telah dibentuk sebelumnya. Skema ini dipilih agar manfaatnya tidak berhenti pada satu atau dua keluarga saja, melainkan bisa dirasakan oleh seluruh warga. “Kami akan rawat baik-baik. Ini modal jangka panjang. Kalau berkembang, manfaatnya bisa membantu banyak keluarga baik untuk ekonomi, kebutuhan adat, maupun peningkatan tabungan kampung,” kata Safarius.
Bantuan ini juga diharapkan dapat memicu semangat baru di kalangan pemuda kampung. Safarius menyampaikan bahwa selama ini banyak generasi muda memiliki kemauan untuk berusaha, namun terbentur keterbatasan modal. Dengan adanya ternak sapi ini, ia berharap muncul inovasi dari warga, seperti pengembangan pakan lokal, peningkatan keterampilan beternak, hingga pengelolaan kandang terpadu.
Selain itu, ia menekankan bahwa bantuan tersebut akan dikelola secara transparan. Pemerintah kampung berkomitmen membuat laporan perkembangan berkala, mulai dari perawatan, kesehatan ternak, hingga potensi reproduksi. “Kami ingin tunjukkan bahwa kampung bisa mengelola bantuan dengan baik. Jika berkembang, kami siap mengembangkan lebih banyak kelompok ternak,” tambahnya.
Bagi warga Fafi, bantuan ini juga membawa nilai emosional tersendiri. Di tengah situasi ekonomi yang masih penuh tantangan, perhatian pemerintah pusat memberi rasa diakui dan diperhatikan. Beberapa tokoh masyarakat menyampaikan bahwa kehadiran program seperti ini mampu meningkatkan rasa percaya diri warga kampung dalam mengelola usaha produktif.
Safarius menutup dengan pesan bahwa bantuan ini harus menjadi titik awal gerakan pemberdayaan yang lebih besar. “Ini bukan soal berapa banyak yang diberikan, tetapi bagaimana kami memanfaatkannya. Dengan kerja bersama, saya yakin dua ekor sapi ini bisa berkembang menjadi puluhan. Kami berterima kasih kepada pemerintah pusat yang sudah melihat kebutuhan riil di kampung-kampung seperti Fafi,” katanya.
Dengan semangat kolektif dan pengawasan yang terarah, Kampung Fafi kini mulai menapaki langkah baru dalam penguatan ekonomi berbasis peternakan. Perhatian pemerintah pusat memberi fondasi, namun tekad warga kampunglah yang akan menentukan sejauh mana bantuan ini tumbuh menjadi kekuatan ekonomi baru di wilayah tersebut.(BRY)


















































