Koran Online, SORONG– Usia melewati riuh tepuk tangan penonton dan semangat sportivitas yang membuncah dalam laga ekshibisi tinju antara Daud Yordan dan Geisler Ap, terselip pesan reflektif yang jauh lebih dalam daripada sekadar kemenangan di atas ring. Daud Yordan memanfaatkan momentum tersebut untuk menyampaikan kritik sekaligus harapan terhadap institusi Polri, yang akan memasuki usia ke-79 pada 1 Juli mendatang.
Kunjungan kerja Daud ke Papua Barat Daya bukan hanya soal olahraga. Sebagai Senator DPD RI asal Kalimantan Barat dan mantan juara dunia tinju, ia hadir membawa suara moral: agar Polri tak sekadar tampil kuat secara fisik, tapi juga tangguh secara etika dan keadilan.
Pertandingan persahabatan antara Daud dan Geisler Ap di Kota Sorong itu disambut antusias masyarakat. Dua petinju nasional itu saling menghibur, tapi juga menunjukkan kelas dan respek satu sama lain.
Namun bagi Daud, pertarungan sejati bukan hanya di atas kanvas ring. “Pertarungan yang paling berat adalah menjaga kepercayaan masyarakat,” ujarnya usai laga. “Saya ingin sampaikan ini kepada Polri, sebagai mitra negara, bahwa kekuatan sejati Bhayangkara adalah ketika rakyat merasa aman dan percaya.”pungkasnya kepada media ini,Jumat (27/06/25)
Lahir di Ketapang, Kalimantan Barat, Daud ‘Cino’ Yordan adalah salah satu ikon olahraga Indonesia yang berhasil menembus kancah internasional. Ia mengoleksi lebih dari 40 kemenangan sepanjang kariernya, termasuk gelar juara IBO Lightweight dan WBO Asia-Pacific. Setelah pensiun dari ring profesional, Daud melanjutkan kiprahnya di dunia politik sebagai anggota DPD RI sejak 2019.
Konsistensi Daud dalam menjunjung sportivitas dan integritas membuatnya dipercaya menjadi suara moral bagi banyak isu, termasuk soal reformasi institusi negara. Ia kerap menyuarakan pentingnya pelayanan publik yang humanis, termasuk di lingkungan kepolisian.
Menjelang HUT Bhayangkara ke-79, Polri dihadapkan pada tantangan serius bagaimana mengembalikan kepercayaan publik yang mulai tergerus akibat sejumlah insiden yang mencederai rasa keadilan. Meskipun upaya reformasi telah dilakukan, publik masih menanti perubahan yang lebih terasa di lapangan.
Menurut Daud, transformasi Polri tidak boleh berhenti pada perubahan struktural. “Yang dibutuhkan adalah reformasi menyeluruh mentalitas, cara pendekatan, dan kemauan untuk mendengar suara rakyat,” katanya.
Ia juga mengapresiasi langkah-langkah positif yang telah dilakukan Polri, seperti digitalisasi layanan dan pembenahan internal. Namun, ia mengingatkan bahwa “reformasi bukan pencitraan, tapi soal keberanian memperbaiki dari dalam.” tuturnya
Daud menyampaikan tiga pesan penting bagi Polri:
1. Rakyat Butuh Polisi yang Mendengar Polisi yang hadir bukan hanya saat penindakan, tapi juga saat pencegahan dan pembinaan.
2. Kekerasan Bukan Solusi, Keadilan adalah Jalan Penggunaan kekuatan harus selalu proporsional dan berpihak pada hak asasi manusia.
3. Dekati Anak Muda Lewat Ruang Positif Pendekatan lewat olahraga, seni, dan edukasi bisa menjadi cara membangun relasi yang sehat dengan generasi muda.
“Tinju mengajarkan saya bahwa kekuatan sejati bukan soal memukul lebih keras, tapi soal tahu kapan harus menahan diri,” ujar Daud dengan nada reflektif. “Polri juga begitu. Kuat, tapi penuh kebijaksanaan.”kata sang petinju.
Hari Bhayangkara ke-79 adalah titik penting. Di usia ini, Polri memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka bukan sekadar institusi penegak hukum, tapi bagian dari denyut nadi rakyat. Suara seperti Daud Yordan yang lahir dari dunia disiplin dan integritas perlu diresapi, bukan ditolak.
“Setiap institusi bisa salah langkah. Tapi kemauan untuk memperbaiki itulah yang membedakan institusi besar dari yang biasa,” pungkasnya.(BR)


















































