Koran Online, SORONG– Ketika Program Makan Bergizi Gratis dari pemerintah pusat belum menjangkau seluruh sekolah, Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Sorong memilih bergerak. Melalui Program MBG Al-Ma’un, mereka menyalurkan 8.500 porsi makanan bergizi ke delapan sekolah, menyasar peserta didik di wilayah yang masih berada di luar cakupan program nasional.
Program tersebut digelar sepanjang 24 November hingga 12 Desember 2025, diawali dengan sosialisasi dan penandatanganan komitmen Pelajar Sehat dan Bergizi pada 21–24 November 2025. Delapan sekolah yang terlibat tersebar di berbagai distrik, mulai dari Makbalim hingga Klamalu.
Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Sorong, Dwi Suratman, menyebut MBG Al-Ma’un lahir dari kegelisahan melihat ketimpangan akses gizi di lingkungan pendidikan.
“Kami melihat masih ada sekolah-sekolah yang belum tersentuh Program Makan Bergizi Gratis. Dari situ muncul kesadaran bahwa kami tidak bisa menunggu. MBG Al-Ma’un adalah ikhtiar untuk menutup celah itu,” kata Dwi, Sabtu (27/12/25).
Menurut Dwi, pemenuhan gizi anak tidak boleh terhenti hanya karena keterbatasan skema atau waktu pelaksanaan program pemerintah.
“Anak-anak tetap harus makan makanan bergizi setiap hari. Itu kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda,” ujarnya.
Sosialisasi MBG Al-Ma’un melibatkan guru serta orang tua atau wali murid, dengan jumlah peserta antara 120 hingga 180 orang di setiap sekolah. Materi yang disampaikan menitikberatkan pada pentingnya gizi seimbang, kebiasaan makan sehat, serta peran keluarga dan sekolah dalam mendukung tumbuh kembang anak.
“Kami tidak hanya membagikan makanan, tetapi juga membangun pemahaman. Tanpa kesadaran bersama, program semacam ini tidak akan berkelanjutan,” kata Dwi.
Pelaksanaan program dilakukan melalui skema dapur sekolah, di mana makanan disiapkan langsung oleh pihak sekolah dengan melibatkan orang tua peserta didik. Skema ini dipilih untuk memastikan kualitas, kebersihan, dan keamanan pangan, sekaligus memberdayakan sumber daya lokal.
“Dapur sekolah adalah kunci. Dari situ ada kontrol kualitas, ada rasa memiliki, dan ada kemandirian,” ujar Dwi.
“Kami ingin sekolah tidak hanya menjadi penerima, tetapi juga pelaku utama.” tambahnya.
Secara rinci, MBG Al-Ma’un menjangkau 128 peserta didik di MTs Muhammadiyah 1 Makbalim selama 10 hari dengan total 1.280 porsi. MI Muhammadiyah Mariyai melayani 173 peserta didik selama 9 hari dengan 1.557 porsi.
SD Muhammadiyah Makotiyamsa menjangkau 134 peserta didik selama 7 hari dengan 938 porsi, sementara SD Muhammadiyah Majaran menyalurkan 1.064 porsi untuk 76 peserta didik selama 14 hari.
MTs Muhammadiyah 3 Salawati melayani 35 peserta didik selama 14 hari dengan 490 porsi. SD IT Salafiyah Syafiiyah melayani 48 peserta didik selama 14 hari dengan 672 porsi. MTs Al-Ma’arif 2 menyalurkan 1.050 porsi kepada 70 peserta didik selama 15 hari.
Adapun MI Muhammadiyah 1 Klamalu menerima 1.449 porsi untuk 161 peserta didik selama 9 hari.
Dwi menegaskan, MBG Al-Ma’un tidak dimaksudkan sebagai pengganti program pemerintah pusat, melainkan sebagai penguat di tingkat komunitas.
“Kami mendukung penuh kebijakan pemerintah pusat. Program ini justru menjadi bukti bahwa masyarakat sipil bisa mengambil peran strategis sambil menunggu jangkauan program diperluas,” katanya.
Ia berharap pendekatan berbasis gerakan Al-Ma’un dapat menjadi contoh praktik baik dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di daerah.
“Gizi anak adalah investasi jangka panjang. Jika hari ini kita abai, dampaknya akan terasa puluhan tahun ke depan,” ujar Dwi.
“Kami ingin Papua Barat Daya memiliki generasi muda yang sehat, mandiri, dan berdaya saing.”ucapnya
Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Sorong menargetkan MBG Al-Ma’un terus dikembangkan sebagai model kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam memastikan hak dasar anak atas pangan bergizi terpenuhi.(**/ARY)


















































