Koran Online, SORONG-Gereja Katolik di Kota Sorong mendorong kaum muda Katolik untuk terlibat aktif mendukung program-program pemerintah yang berpihak pada kesejahteraan rakyat. Seruan itu disampaikan dalam kegiatan Katakese atau pembinaan iman Katolik yang digelar di Stasi St. Yosef Freinademetz Malasilen, Paroki Santo Arnoldus Janssen Malanu.
Kegiatan bertema “Iman yang Hidup Mewujudkan Kasih Allah Melalui Dukungan pada Program Pemerintah untuk Kesejahteraan Bersama” itu dipimpin oleh Pater Krispianus Panda Lewa, SVD, dan dihadiri sekitar 50 orang muda Katolik (OMK) bersama sejumlah tokoh umat setempat.

Dalam pemaparannya, Pater Krispianus menekankan bahwa iman yang hidup tidak hanya ditunjukkan melalui doa dan ibadah, tetapi juga lewat tindakan nyata di tengah masyarakat. Ia mengajak OMK untuk terbuka dan ikut mendukung program-program pemerintah yang membawa manfaat bagi masyarakat luas.
Secara khusus, ia menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, kebijakan itu merupakan langkah konkret pemerintah dalam memperhatikan pemenuhan gizi anak-anak, terutama di wilayah Papua, guna memerangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini.
“Gereja memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung kebijakan yang membawa kebaikan umum,” ujar Pater Krispianus kepada media ini, Minggu (12/10/25)
“Ini bukan soal politik, tetapi bagian dari panggilan iman untuk terlibat dalam urusan kemanusiaan.”tambahnya
Ia juga mengingatkan generasi muda Katolik di Papua agar menjadi pelopor kebaikan dan menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah, terutama melalui keterlibatan dalam kegiatan sosial, ekonomi, dan pembangunan daerah.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi yang berlangsung usai pemaparan. Banyak yang menilai Program MBG sebagai langkah positif karena menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat kecil, khususnya anak-anak sekolah yang masih menghadapi keterbatasan gizi.
Meski demikian, sejumlah peserta memberi masukan kritis terkait pelaksanaannya di lapangan. Mereka menyoroti persoalan teknis seperti pengelolaan dapur umum yang harus memasak hingga 3.000 porsi per hari, yang berpotensi menyebabkan makanan cepat basi dan distribusi tidak merata.
Peserta mengusulkan agar petunjuk teknis program disesuaikan dengan kondisi geografis Papua, misalnya dengan menambah jumlah dapur dan tenaga masak di setiap distrik atau kampung.
Selain itu, warga berharap adanya pengawasan ketat dari pemerintah daerah maupun pusat.
“Kami butuh pejabat atau tim pengawas yang turun langsung ke lapangan. Jangan sampai program ini hanya bagus di atas kertas, tapi tidak sampai ke masyarakat kecil,” ujar salah satu tokoh umat.
Umat dan Gereja bersepakat untuk ikut mengawal pelaksanaan Program MBG agar tetap transparan dan tepat sasaran. Mereka berharap kegiatan sosialisasi seperti Katakese ini dapat terus dilakukan secara rutin agar semakin banyak umat terlibat dalam upaya bersama membangun kesejahteraan masyarakat.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan santap malam, mencerminkan semangat kebersamaan serta komitmen umat Katolik Sorong dalam mendukung pembangunan yang berpihak pada rakyat kecil.(ARY)


















































