Koran Online, SORONG – Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Papua Barat Daya menggelar acara Halal Bihalal yang berlangsung meriah di Gedung Ikawangi, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, pada Senin (21/4/2025). Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat, pimpinan organisasi keagamaan, serta jajaran pemerintah daerah setempat.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Sorong, Sutedjo, menekankan pentingnya memperkuat tali persaudaraan antarwarga bangsa melalui kegiatan silaturahmi. Ia mengutip pernyataan Presiden pertama RI, Soekarno, yang menekankan perlunya menyatukan anak bangsa melalui silaturahmi nasional atau Silanas.
“Halal Bihalal adalah sarana konkret untuk mempererat tali persaudaraan serta memperkuat kebersamaan di antara elemen bangsa,” ujar Sutedjo.
Ia juga menyinggung sejarah munculnya istilah Halal Bihalal, yang berasal dari ide ulama besar K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dalam situasi kebangsaan yang sempat terpecah akibat perbedaan pendapat, K.H. Hasbullah mengusulkan Halal Bihalal sebagai jalan tengah untuk mempertemukan tokoh-tokoh nasional dalam suasana damai dan penuh kekeluargaan.
“Bukan menyampaikan hal itu yang luar biasa, karena sudah biasa dilakukan. Namun ketika K.H. Hasbullah menyampaikan, ‘Kalau begitu kita Halal Bihalal saja,’ itu menjadi tonggak penting dalam sejarah silaturahmi nasional,” ungkapnya.
Menurut Sutedjo, konsep Halal Bihalal yang diusung K.H. Hasbullah adalah mencari kehalalan dengan cara yang halal—mencari kebaikan dengan jalan yang baik. Ia menilai nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam menjaga kerukunan dan keutuhan bangsa hingga saat ini.

“Tradisi ini tetap bertahan meski bangsa kita pernah mengalami perbedaan tajam. Keberlanjutan Halal Bihalal menjadi bukti komitmen kita menjaga nilai persatuan dan toleransi,” katanya.
Lebih dari sekadar tradisi pasca-Lebaran, Sutedjo menegaskan bahwa Halal Bihalal adalah simbol rekonsiliasi, penguatan ukhuwah, dan perajutan kembali semangat kebangsaan.
Acara ini pun diwarnai dengan suasana hangat dan penuh keakraban, mencerminkan semangat kebersamaan lintas suku, agama, dan budaya yang hidup di Papua Barat Daya. (ARY)


















































