Koran Online, SORONG -Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Papua Barat Daya menggelar Sosialisasi Petunjuk Teknis Penggunaan Fitur Baru Dashboard SIRen, SOPHI, dan Implus pada Aplikasi ASPAK, yang berlangsung di Hotel Aimas, Kabupaten Sorong, pada 13–15 Oktober 2025.
Kegiatan ini dibuka secara resmi atas nama Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan KB Provinsi Papua Barat Daya, Dr. Naomi Netty Howay, SKM., M.Kes, dan diikuti oleh 28 peserta dari Dinas Kesehatan kabupaten/kota, rumah sakit, serta puskesmas di seluruh wilayah Papua Barat Daya.

Sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah provinsi memperkuat sistem informasi alat kesehatan di daerah melalui pemanfaatan aplikasi ASPAK (Aplikasi Sarana, Prasarana, dan Alat Kesehatan), yang kini dilengkapi fitur integratif SIRen, SOPHI, dan Implus.
Ketua Panitia, Ismail Obure, SKM., M.Kes, menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam mengoperasikan dan memanfaatkan data ASPAK secara optimal.
“ASPAK adalah instrumen penting untuk memantau kondisi sarana dan prasarana kesehatan di setiap fasilitas layanan. Dengan integrasi fitur baru seperti SOPHI, SIRen, dan Implus, sistem ini dapat mempercepat pelaporan dan memastikan kebutuhan alat kesehatan terpantau secara akurat,” ujar Ismail.
Ia menambahkan, sistem digital ini mendukung kebijakan nasional dalam mewujudkan tata kelola alat kesehatan yang transparan, efisien, dan tepat sasaran, terutama di provinsi-provinsi baru seperti Papua Barat Daya.
Sementara itu, Apt. Iriene Irma Lamma, S.Si., Kepala Seksi Kefarmasian dan Alat Kesehatan DKPPKB Papua Barat Daya, menyampaikan bahwa kegiatan ini berada di bawah koordinasi pihaknya.
“Seksi kami memang lebih banyak berfokus pada pelayanan kefarmasian dan logistik, tetapi penguatan sistem alat kesehatan juga menjadi prioritas. Sebagai provinsi baru, banyak tenaga kesehatan masih menjalankan tugas ganda. Karena itu, kegiatan ini penting untuk memperkuat perencanaan dan distribusi alat kesehatan,” jelas Irma.
Irma juga mengapresiasi momen kegiatan yang berlangsung termasuk kehadiran pendamping teknis dari Kementerian Kesehatan, yang sedianya hadir mendampingi langsung implementasi ASPAK di Papua Barat Daya.
“Kami memastikan pengadaan alat kesehatan dilakukan berdasarkan kebutuhan riil di lapangan. Harus ada tenaga dan layanan terlebih dahulu, baru kemudian alatnya diadakan. Dengan begitu, sistem menjadi efektif dan efisien,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Irma juga menyinggung pentingnya semangat kolaborasi lintas profesi dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan.

“Saya bangga bisa bekerja kembali dengan orang-orang yang dulu membentuk karakter profesional saya. Dari apotek hingga puskesmas, kita belajar bahwa kerja sama dan tanggung jawab adalah kunci pelayanan berkualitas,” tuturnya disambut tepuk tangan peserta.
Sosialisasi yang berlangsung tiga hari itu juga menjadi momentum penting bagi Papua Barat Daya dalam memperkuat sistem pelaporan digital sektor kesehatan. Melalui integrasi Dashboard SIRen, SOPHI, dan Implus dalam ASPAK, pemerintah daerah dapat memantau kebutuhan alat kesehatan secara real-time dan transparan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
Kegiatan resmi dibuka dengan penabuhan tifa bersama, yang menjadi simbol komitmen bersama antara pemerintah pusat dan daerah dalam membangun sistem informasi kesehatan digital yang tangguh di provinsi termuda Indonesia itu. (MAN)


















































