Koran Online, SORONG- Kota Sorong tengah bersiap menjadi saksi laga istimewa malam ini. Dua sosok yang menorehkan nama di dunia tinju Daud Yordan, petinju profesional kelas dunia, dan Geissler AP, mantan atlet nasional dan pernah menjadi juara nasional PON dan Juara Kelas Menengah Super World Boxing Council (WBC) Kontinental Asia kelas 76 Kg akan berhadapan dalam pertandingan ekshibisi di Gedung Serbaguna Yonif 762/VYS. Lebih dari sekadar adu pukulan, laga ini menjadi simbol kebangkitan semangat olahraga di ujung timur Indonesia.
Pertandingan eksebisi profesional yang menjadi bagian dari turnamen tinju amatir merebutkan piala bergilir PFM CUP I disambut antusias oleh ratusan anak muda dari 5 kabupaten dan 1 kota di Papua Barat Daya yang datang membawa semangat, bukan kemewahan.
Daud “Cino” Yordan, nama yang sudah tak asing di ring internasional, tercatat sebagai salah satu petinju terbaik Indonesia. Ia pernah menyandang sabuk,WBA Asia Lightweight,IBO World Lightweight,WBO Asia Pacific Lightweight dan Super Featherweight.
Petarung asal Kalimantan Barat ini pernah bertanding di Amerika Serikat, Australia, Rusia, dan sejumlah negara Eropa. Reputasinya sebagai petinju tangguh membuat kehadirannya malam ini bukan hanya sebagai bintang, tapi inspirasi.
Sementara itu, Geissler AP adalah sosok yang tak kalah penting. Ia pernah menjadi juara nasional PON dan Juara Kelas Menengah Super World Boxing Council (WBC) Kontinental Asia kelas 76 Kg .Laga malam ini (24/06/25)menjadi simbol: olahraga bukan hanya karier, tapi pengabdian.
Senator Hartono, anggota DPD RI asal Papua Barat Daya, yang turut hadir dan mendukung penuh kegiatan ini, menyebut pertandingan malam ini bukan hanya peristiwa olahraga, melainkan momentum penting dalam sejarah pembinaan atlet muda di wilayah timur.
“Ini adalah titik awal. Para atlet muda kita selama ini punya semangat, tapi tidak punya ruang untuk tampil. Melalui turnamen ini, mereka bisa menunjukkan diri, membangun jam terbang, dan bermimpi lebih tinggi,” ujar Hartono.
Hartono, yang dikenal vokal memperjuangkan hak-hak kepemudaan,ekonomi dan sosial budaya, juga menegaskan bahwa turnamen ini harus menjadi awal dari sistem pembinaan yang lebih serius, terencana, dan berkelanjutan.
“Tanah Papua dikenal sebagai gudang atlet. Tapi jika tidak dibangun secara sistematis, potensi itu akan hilang. Ini sekaligus menjadi sorotan penting bagi pemerintah baik pusat maupun daerah untuk ke depan, bagaimana pengembangan olahraga, khususnya tinju, bisa diarahkan secara lebih terstruktur dan berkelanjutan,” tegasnya.
Hartono juga berharap agar turnamen ini tidak berhenti sebagai seremoni semata. Menurutnya, perlu dibangun sinergi antara pemerintah, organisasi olahraga, dan komunitas lokal agar prestasi atlet Papua Barat Daya benar-benar bisa dikembangkan dari akar rumput hingga level nasional dan internasional.

Turnamen ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi pembentukan sistem pembinaan atlet di Papua Barat Daya secara berjenjang. Anak-anak muda dari berbagai daerah kini mulai melihat bahwa olahraga bukan sekadar aktivitas, tapi bisa menjadi masa depan.
Sementara itu Geissler AP berharap, tinju dan olahraga lainnya dapat menjadi alternatif positif bagi anak-anak muda dari berbagai latar belakang.
“Tinju mengajarkan disiplin dan ketangguhan. Anak-anak muda kita butuh ruang seperti ini untuk mengarahkan energinya ke hal positif,” ujarnya.
Daud Yordan, menyambut hangat atmosfer semangat di Sorong. Ia menyebut kehadirannya di ring malam ini bukan untuk mencari kemenangan, tapi menghidupkan harapan.
“Saya pernah bertarung membawa bendera Indonesia di luar negeri. Suatu hari nanti, saya ingin melihat petinju Papua Barat Daya berdiri di ring dunia,” ucapnya.
Malam ini, ring tinju di Sorong tak hanya menjadi arena bertarung, melainkan panggung pertemuan antara semangat, pengalaman, dan harapan. Ini bukan sekadar tentang siapa yang menang atau kalah. Ini adalah pesan sunyi yang nyaring: bahwa dari kepala burung Papua, Indonesia punya masa depan olahraga yang gemilang.(BR)


















































