Koran Online,SORONG – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-75 Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) dan ke-91 Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Sorong menyelenggarakan kegiatan Ngaji Budaya yang berlangsung pada Kamis (24/4/2025) di Gedung Sekretariat PC NU Sorong, Kelurahan Malasom, Distrik Aimas, Papua Barat Daya.
Kegiatan ini menjadi ajang konsolidasi internal serta penguatan kolaborasi strategis, khususnya bersama Program Inklusi yang turut menjadi mitra penyelenggara. Fokus utama dalam kegiatan ini adalah pengarusutamaan isu perlindungan anak, dengan penekanan khusus pada upaya pencegahan perkawinan anak, terutama di kalangan perempuan.
Ketua Fatayat NU Kabupaten Sorong, Widia Stuti, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan Ngaji Budaya tidak hanya bertujuan mempererat silaturahmi dan kebersamaan antaranggota, tetapi juga mendorong pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang berdampak nyata bagi masyarakat.
“Momentum peringatan Harlah ini kami manfaatkan untuk memperkuat kerja kolektif dalam isu-isu penting seperti pencegahan perkawinan anak, dengan menjadikan budaya lokal sebagai sarana refleksi dan edukasi,” ujar Widia.
Sementara itu, Field Coordinator Program Inklusi, Rusyaid, menjelaskan bahwa kegiatan Ngaji Budaya dirancang untuk menggali dan mengangkat nilai-nilai budaya lokal yang relevan dengan konteks perlindungan anak, sehingga pendekatan yang digunakan menjadi lebih inklusif dan kontekstual.
“Papua Barat Daya, khususnya Kabupaten Sorong, yang merupakan wilayah multietnis dengan beragam budaya, seperti suku Moi, menjadi area strategis dalam pelibatan pendekatan budaya sebagai bagian dari upaya perlindungan anak,” jelas Rusyaid.
Untuk memperkaya diskusi, acara menghadirkan tiga narasumber utama yang mewakili berbagai perspektif penting, yakni:
- Kepala Suku Besar Moi, sebagai representasi nilai-nilai dan kearifan lokal,
- Rektor IAIN Sorong, yang membawa perspektif akademik dan keagamaan,
- Kepala Bidang Pendidikan Islam dari Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Papua Barat Daya, yang memberikan pandangan dari sisi kebijakan dan pendidikan agama.
Melalui pemaparan ketiga narasumber tersebut, Ngaji Budaya menjadi ruang dialog interaktif yang mempertemukan pemahaman tradisional dan pendekatan modern dalam isu pencegahan perkawinan anak. Diskusi ini diharapkan melahirkan kesepahaman lintas sektor untuk memperkuat perlindungan anak di wilayah Sorong dan sekitarnya.
Kegiatan ini menegaskan peran aktif Fatayat NU sebagai organisasi perempuan muda Nahdlatul Ulama dalam memperjuangkan isu-isu strategis yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, dengan tetap berakar pada nilai-nilai budaya. (ARY)


















































