Koran Online, SORONG– Pengembangan kapasitas Orang Asli Papua (OAP) di tengah pesatnya digitalisasi menjadi perhatian serius Yayasan Laga Vos Malamoi. Melalui kegiatan sosialisasi dan bimbingan teknis (Bimtek) Kewirausahaan dan Pendidikan Digital Berbasis Marketing, yayasan tersebut berupaya mendorong lahirnya pelaku usaha OAP yang inovatif dan berdaya saing. Kegiatan ini digelar di Ruang Pertemuan Aquarius Hotel, Aimas, Kabupaten Sorong, Selasa (16/12/2025).
Bimtek yang berlangsung selama tiga hari, mulai 16 hingga 18 Desember 2025, diikuti oleh sekitar 100 peserta dari berbagai latar belakang. Peserta terdiri atas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang telah merintis usaha, pemuda dan remaja yang baru memulai, hingga mereka yang memiliki minat kuat untuk terjun ke dunia usaha.

Ketua Yayasan Laga Vos Malamoi, Barnike S. Kalami, S.E, dalam wawancaranya menegaskan bahwa pelaku UMKM saat ini dituntut untuk terus berinovasi dan memahami perkembangan digital, khususnya dalam hal pemasaran.
“Sebagai pelaku usaha kecil dan menengah, kita perlu berinovasi dan mengerti tentang digital marketing. Dengan begitu, usaha yang dijalankan tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga mampu memperluas pemasaran. Sekarang pemasaran bukan hanya face to face, tetapi sudah ada media digital yang bisa digunakan untuk transaksi jual beli,” jelas Barnike.

Ia menjelaskan, kegiatan ini menghadirkan empat narasumber dengan materi yang disesuaikan dengan klasifikasi peserta. Pendekatan tersebut dilakukan agar setiap peserta, baik yang sudah menjalankan usaha maupun yang baru merintis, dapat memahami tahapan membangun usaha secara bertahap dan berkelanjutan.
Menurut Barnike, sasaran utama kegiatan ini memang difokuskan kepada Orang Asli Papua. Hal tersebut bukan bentuk diskriminasi, melainkan bagian dari upaya percepatan peningkatan kapasitas OAP agar mampu sejajar dan bersaing di tengah arus ekonomi modern.
“Sasaran kami lebih kepada Orang Asli Papua. Kita harus jujur mengakui bahwa dalam pengembangan UMKM, OAP masih bisa dikatakan tertinggal dibanding saudara-saudara kita dari luar. Karena itu, kami ingin membangun jiwa inovatif, daya saing, serta pemahaman tentang bagaimana menghasilkan produk dan memasarkannya dengan baik,” ujarnya.
Melalui bimtek ini, Yayasan Laga Vos Malamoi berharap peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga kepercayaan diri untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal yang dipadukan dengan teknologi digital.
Yayasan berkomitmen untuk terus mendorong pendampingan berkelanjutan agar transformasi digital benar-benar membawa manfaat nyata bagi kesejahteraan Orang Asli Papua.(ARY)


















































