Koran Online, SORONG-Pemerintah pusat kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekonomi masyarakat adat melalui program-program pemberdayaan yang menyentuh langsung kebutuhan dasar komunitas di Papua. Salah satu langkah konkret terlihat melalui penyaluran bantuan ternak babi beserta fasilitas pembangunan kandang bagi komunitas adat Suku Biak di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

Bantuan tersebut diterima langsung oleh Kepala Suku Biak, Moses Adadikam, dan menjadi bukti bahwa negara hadir bukan hanya melalui kebijakan makro, tetapi hingga level kampung dengan intervensi yang relevan bagi penghidupan masyarakat.
Program ini dirancang untuk mendorong terciptanya sumber ekonomi mandiri yang berkelanjutan, sejalan dengan arah pembangunan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan penguatan ekonomi rakyat dan kesejahteraan masyarakat adat di seluruh pelosok Indonesia.
Dalam paket bantuan ini, pemerintah menyalurkan ternak babi lengkap dengan fasilitas kandang yang dibangun secara layak, higienis, dan sesuai standar pemeliharaan modern. Pendekatan tersebut diharapkan membantu masyarakat adat beralih dari pola pemeliharaan tradisional menuju model yang lebih produktif, aman, serta memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Ternak babi sendiri menjadi komoditas penting dalam kehidupan masyarakat Papua: berfungsi sebagai aset ekonomi, sumber pendapatan, hingga keperluan adat dan sosial. Melalui bantuan ini, pemerintah ingin memastikan bahwa potensi budaya dan ekonomi tersebut dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi komunitas yang stabil.
Kepala Suku Biak, Moses Adadikam, menyampaikan apresiasi mendalam kepada pemerintah pusat, khususnya kepada Presiden Prabowo. Menurutnya, bantuan ini merupakan bentuk perhatian langsung terhadap kebutuhan masyarakat adat yang selama ini menggantungkan kehidupan pada usaha ternak dan hasil alam.
Ia menegaskan bahwa bantuan ini tidak sekadar bantuan simbolis, melainkan instrumen nyata yang dapat dikelola bersama masyarakat untuk menopang ekonomi keluarga dan kampung.

“Bantuan ini sangat berarti bagi kami. Ini modal besar bagi masyarakat Bia untuk membangun ekonomi adat secara mandiri,” ujarnya.
Program ini diproyeksikan menjadi fondasi usaha ekonomi baru berbasis kelompok. Dengan adanya kandang yang memadai, risiko penyakit dapat ditekan, produktivitas ternak meningkat, dan nilai jual babi dapat naik secara signifikan.
Model pengelolaan kelompok diharapkan memicu terbentuknya usaha komunal, seperti penjualan bibit, penggemukan, hingga penyiapan hewan adat.
Selain penguatan ekonomi, program ini juga menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan lokal. Ketersediaan ternak yang dikelola secara terstruktur dinilai mampu memperkuat kemandirian masyarakat kampung dalam memenuhi kebutuhan dasar tanpa ketergantungan produk dari luar wilayah.
Bantuan ini sekaligus memperkuat hubungan strategis antara pemerintah pusat dan komunitas adat di Papua Barat Daya. Kehadiran negara melalui program-program berskala kampung menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya bertumpu pada infrastruktur besar, tetapi juga pada penguatan ekonomi rumah tangga dan struktur sosial adat.
Moses Adadikam menegaskan bahwa masyarakat adat Suku Bia siap bersinergi dan mendukung arah pembangunan pemerintah, terutama yang menyentuh aspek kesejahteraan, stabilitas, serta peningkatan potensi kampung.
Dengan mulai berjalannya program bantuan ternak babi dan pembangunan kandang ini, masyarakat Suku Bia menyambut optimisme baru. Pemerintah telah memberikan modal awal; kini masyarakat adat mengambil peran melanjutkan pengelolaan dengan kearifan lokal mereka.
Dari kampung-kampung kecil inilah fondasi ekonomi adat yang kuat diharapkan tumbuh menjadi bukti bahwa perhatian negara dapat menggerakkan perubahan nyata di tingkat akar rumput.(BRY)


















































