Koran Online, SORONG-Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Sorong kembali menunjukan komitmennya dalam memberdayakan perempuan Papua, khususnya mama-mama yang tinggal di wilayah pelosok. Melalui pelatihan Kelas Griya Kuliner Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Mama-Mama Papua yang berfokus pada pembuatan aneka kue basah, Dekranasda Kabupaten Sorong membuka ruang baru bagi masyarakat untuk mengembangkan keterampilan kuliner yang bernilai ekonomis.Selasa(09/12/25)

Pelatihan ini dilaksanakan di dua titik, yakni salah satunya di Kampung Malagubtuk, Papua Barat Daya. Kehadiran program ini bukan hanya pelatihan teknis, tetapi juga upaya pendampingan yang menyasar peningkatan kapasitas mama-mama Papua agar lebih percaya diri dalam memulai usaha rumahan.
Kepala Distrik Klayili, Yohanis Sawisa, SE, memberikan apresiasi mendalam kepada Ketua Dekranasda Kabupaten Sorong, Junita Linda Kamuru, yang dinilainya telah memberikan perhatian khusus bagi perempuan Papua yang tinggal jauh dari pusat kota.

“Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Ibu Ketua Dekranasda Kabupaten Sorong yang sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan perhatian untuk datang langsung ke Kampung Malagubtuk. Tidak semua program menyentuh wilayah pelosok seperti ini.
Mama-mama di kampung ini mendapat kesempatan baru untuk belajar, berkreasi, dan membuka usaha sederhana yang dapat menambah penghasilan keluarga,” ujar Sawisa
Yohanis menambahkan bahwa pelatihan seperti ini sangat penting karena membuka wawasan dan menambah keyakinan mama-mama Papua bahwa kemampuan mereka memiliki nilai ekonomi.
“Saya berharap ilmu yang diperoleh hari ini tidak berhenti di pelatihan saja, tetapi dapat diterapkan di rumah masing-masing. Kami dari pemerintah distrik selalu siap mendukung agar usaha kecil mama-mama bisa berkembang,” tutupnya.

Sebanyak 30 mama-mama Papua yang mengikuti pelatihan tidak hanya belajar teknik mengolah kue basah, tetapi juga menerima bantuan peralatan berupa kompor dan mixer. Perlengkapan tersebut diharapkan menjadi modal awal untuk memulai produksi rumahan setelah pelatihan selesai.
Para peserta juga diajarkan cara memilih bahan yang baik, teknik pengemasan sederhana, hingga cara menghitung harga jual yang menguntungkan. Pendekatan ini diharapkan dapat membangun UMKM yang berkelanjutan, tidak sekadar menghasilkan produk, tetapi juga memahami dasar-dasar manajemen usaha kecil.
Ketua Dekranasda Kabupaten Sorong, Junita Linda Kamuru, dalam sambutannya menekankan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari misi besar Dekranasda menghadirkan ruang edukasi, keterampilan, dan pemberdayaan ekonomi hingga ke pelosok kampung.
“Mama-mama Papua memiliki potensi luar biasa. Tangan-tangan terampil ini hanya perlu dibekali dengan pengetahuan dan kesempatan. Dekranasda hadir untuk memastikan bahwa setiap mama, baik yang tinggal di kota maupun di kampung, mendapatkan akses yang sama untuk belajar dan berkembang,” ujar Junita.
Ia menjelaskan bahwa pelatihan kuliner ini bukan hanya tentang membuat kue, tetapi tentang membuka mata masyarakat bahwa kreativitas rumahan pun dapat menjadi sumber pendapatan.
“Kami ingin mama-mama bisa pulang dengan pengetahuan baru, alat pendukung, dan semangat bahwa mereka mampu menghasilkan produk yang bernilai jual. Dengan begitu, ekonomi keluarga bisa terbantu, dan mama-mama menjadi lebih mandiri,” tambahnya.
Junita juga menegaskan bahwa pelatihan ini akan terus diperluas ke kampung-kampung lain di Kabupaten Sorong. Dekranasda menyiapkan berbagai program yang menyentuh kerajinan, kuliner, hingga pendampingan UMKM berbasis komunitas.
Kehadiran Dekranasda Kabupaten Sorong di wilayah pedalaman membawa harapan baru bagi mama-mama Papua yang selama ini menghadapi keterbatasan akses. Pelatihan yang diberikan menjadi jembatan antara keterampilan tradisional dan peluang ekonomi modern.

Melalui pendekatan edukatif, pemberian sarana produksi, dan pendampingan berkelanjutan, Dekranasda berupaya memastikan bahwa setiap peserta mampu mempraktikkan keterampilan yang telah dipelajari dan mengembangkannya menjadi usaha kecil yang produktif.
Program ini menjadi bukti bahwa pemberdayaan perempuan di Papua dapat dimulai dari hal sederhana mengolah kue basah menjadi peluang ekonomi.(ARY)


















































