Koran Online, SORONG-Di beranda rumah milik tokoh perempuan Moi, Sarlota Mobalem Malagam, suasana sore terasa hangat. Sejumlah mama-mama Moi duduk melingkar, tangan mereka lincah menganyam rumput rawa yang telah dijemur hingga kering. Dari helai-helai serat alami itu lahir karya indah: tas, topi, alas piring, hingga tempat tisu produk lokal yang memadukan seni, tradisi, dan nilai ekonomi.

Kegiatan sederhana yang berlangsung pada Sabtu (01/11/2025) itu menjadi bagian dari Program Bantuan Modal Usaha Presiden Prabowo Subianto dan pemerintah pusat, sebuah inisiatif yang bertujuan menstimulasi kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dukungan ini diarahkan khususnya bagi kelompok perempuan di akar rumput mereka yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.

Melalui program tersebut, pemerintah ingin menumbuhkan kembali denyut ekonomi kerakyatan di Papua Barat Daya, dengan UMKM sebagai penggeraknya.
Bantuan modal yang diberikan bukan sekadar stimulus, tetapi menjadi titik awal perubahan sosial yang mendorong masyarakat adat agar berani berwirausaha dan mandiri secara ekonomi.
“Kerajinan ini bukan hanya soal mencari penghasilan, tapi juga cara kami menjaga identitas dan menghargai warisan leluhur,” ujar Sarlota Mobalem Malagam, yang merupakan tokoh dan penggerak perempuan Moi di Kabupaten Sorong.

Ia menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap masyarakat di daerah. “Kami sangat berterima kasih kepada Presiden Prabowo dan pemerintah yang sudah membantu dengan program modal usaha ini. Bantuan ini menjadi penyemangat bagi perempuan Moi untuk terus berkarya dan mandiri,” katanya.
Sarlota menambahkan, pelatihan dan pendampingan yang menyertai program ini telah membuka ruang baru bagi perempuan Moi untuk belajar, berbagi, dan menumbuhkan rasa percaya diri. “Kami ingin perempuan Moi bisa berdiri di atas kaki sendiri, menghasilkan karya yang bermanfaat bagi keluarga, dan membawa nama baik budaya kita,” ucapnya dengan mata berbinar.
Para peserta kegiatan berasal dari organisasi Kwongkek Kaban Salukh Moi (KKSM), wadah perempuan Moi yang berkomitmen memperkuat fondasi ekonomi masyarakat bawah melalui kolaborasi dan solidaritas.

Menurut Mama Martince Mobalen, salah satu instruktur pelatihan, program ini menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. “Kemandirian ekonomi dan pengembangan UMKM bukan hanya soal pendapatan, tapi juga soal martabat dan kedaulatan ekonomi lokal,” ujarnya.
Melalui sinergi antara pemerintah pusat, lembaga lokal, dan masyarakat adat, semangat untuk menumbuhkan kemandirian ekonomi itu kini mulai nyata. Dari bilik-bilik bambu dan anyaman rumput rawa, lahir tekad untuk menolak ketergantungan dan menghidupkan kembali ekonomi keluarga.
Dari tangan-tangan perempuan Moi, harapan baru tumbuh bahwa kemajuan tidak melulu lahir dari kota besar dan gedung bertingkat, tetapi juga dari serat-serat rumput rawa yang diolah dengan cinta, ketekunan, dan kemandirian.(ARY)


















































