Koran Online , SORONG-Dalam suasana penuh syukur dan haru, jemaat Gereja Kristen Injili (GKI) Bethel Doom, Papua Barat Daya, merayakan dua momentum besar yang sarat makna sejarah
1 Abad Peradaban Papua dan HUT GKI ke-69 di Tanah Papua. Perayaan yang berlangsung sejak 23 hingga 26 Oktober di Pulau Doom itu bukan sekadar seremoni keagamaan, tetapi juga refleksi panjang tentang perjalanan iman, budaya, dan peradaban orang Papua dalam terang Injil.

Selama empat hari, berbagai kegiatan digelar dengan semangat kebersamaan. Jemaat dari berbagai kalangan ikut serta dalam jalan sehat lintas usia, bazar UMKM gerejawi yang menampilkan produk kearifan lokal, serta sesi edukasi rohani dan kebudayaan. Semua dirangkai dalam satu benang merah syukur atas karya Allah dan komitmen melanjutkan pelayanan bagi sesama.
“Perayaan ini bukan hanya mengenang sejarah, tetapi menegaskan kembali jati diri kita sebagai orang Papua yang hidup dalam terang Injil,” ujar Ludya Maran di sela acara di halaman Gereja Bethel Doom.
Usia satu abad lebih menjadi gema peradaban yang terus mengakar dan meluas. Gereja bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat pembelajaran, pelayanan sosial, dan penggerak ekonomi jemaat. Di Pulau Doom, semangat itu tampak jelas melalui partisipasi jemaat dalam gerakan UMKM gerejawi sebuah wujud nyata bagaimana iman dapat diterjemahkan dalam karya dan pemberdayaan ekonomi lokal.

Salah satu figur yang memberi warna dalam perayaan ini adalah Engeline Y. Kardinal, pemerhati perempuan dan anak di Papua Barat Daya. Dalam pesan reflektifnya, ia mengingatkan bahwa pelayanan sejati bukan tentang berlimpahnya sumber daya, melainkan tentang hati yang mau memberi, bahkan ketika dalam kekurangan.
“Pelayanan bukan hanya tentang memberikan apa yang kita punya,” ujar Engeline.
“Justru tantangannya adalah ketika kita tidak punya apa-apa, namun tetap mau memberi. Di situ kita belajar mengenal kasih Allah yang sejati.”katanya dengan lugas wanita yang saat ini mengabdikan dirinya diberbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Ia menegaskan bahwa di usia 1 abad peradaban Papua dan 69 tahun GKI, gereja harus terus menjadi ruang pelayanan yang hidup, terutama bagi perempuan dan anak-anak yang sering menjadi kelompok rentan dalam masyarakat.
“Kita belajar dari sejarah Injil yang datang bukan dengan kekuatan, tapi dengan cinta dan ketulusan. Maka, gereja hari ini harus tetap hadir bagi yang lemah, mendengar jeritan mereka, dan melayani dengan kasih,” tutur Engeline penuh haru.
Dalam momentum perayaan ini, semangat kearifan lokal juga menjadi sorotan. Melalui gerakan UMKM gerejawi, jemaat GKI Bethel Doom memperkenalkan hasil karya tangan seperti anyaman, olahan makanan khas, dan kerajinan dari bahan alam Papua.
Aktivitas ini bukan sekadar pameran ekonomi, melainkan bentuk teologi kontekstual di mana iman diwujudkan dalam kerja nyata dan pelestarian budaya.
“Kita bersyukur karena Tuhan bekerja melalui budaya kita sendiri,” ujar Marta salah satu pelaku UMKM gerejawi. “Melalui karya tangan dan hasil bumi, kita memuliakan Allah dan menghidupi keluarga kita.”tambahnya

Suasana syukur memuncak pada ibadah penutupan yang dihadiri ratusan jemaat. Doa, lagu rohani, dan tarian adat berpadu menjadi simbol keharmonisan iman dan budaya pada malam perayaan puncak yang ditandai dengan penerbangan lampion ke udara.
Engeline Y. Kardinal kembali menegaskan pesan yang menjadi napas dari seluruh rangkaian acara.
“Melayani di jalan Tuhan adalah perjalanan panjang. Kadang melelahkan, tapi justru di sanalah kita menemukan makna hidup. Satu abad peradaban Papua adalah bukti bahwa kasih Allah tidak pernah meninggalkan tanah ini,” ujarnya.
Perayaan 1 Abad Peradaban Papua dan HUT GKI ke-69 di Tanah Papua di Pulau Doom ini menjadi penanda bahwa iman dan peradaban di Papua tumbuh bersama saling menguatkan, saling menghidupi. Di tengah tantangan zaman, gereja tetap menjadi terang kecil di setiap sudut tanah ini, membawa pesan abadi bahwa pelayanan sejati adalah kasih yang bekerja dalam diam, melampaui waktu dan batas. (ARY)


















































