Koran Online, KOTA SORONG, Dalam semangat syukur dan pelestarian budaya, Jemaat Bethel Doom Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua bersiap menggelar sebuah hajatan besar bertajuk Pameran dan Pementasan Seni Budaya Papua. Acara ini menjadi bagian dari peringatan dua momentum bersejarah: 100 Tahun (1 Abad) Peradaban Orang Asli Papua dan 69 Tahun berdirinya Gereja Kristen Injili di Tanah Papua.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, dari 23 hingga 25 Oktober 2025, di Pulau Doom, Sorong Kepulauan. Dengan mengusung tema “Doom Dalam Keberagaman dan Kasih”, acara ini dirancang bukan sekadar perayaan simbolik, tetapi juga perwujudan rasa syukur atas perjalanan iman, budaya, dan sejarah panjang masyarakat Papua.
Dalam panduan kegiatan yang disusun panitia PHBG Jemaat Bethel Doom, pameran dan pementasan ini memadukan unsur spiritual, edukasi, dan kebudayaan. Tujuannya mengangkat martabat seni dan budaya Orang Asli Papua sebagai identitas yang luhur serta memperkenalkan nilai-nilai budaya leluhur kepada generasi muda.
Melalui pementasan tari, musik, dan kriya rakyat Papua, panitia berharap dapat mendokumentasikan kekayaan budaya, sekaligus mempererat tali persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Sorong dan Papua Barat Daya.
Kegiatan monumental ini juga mendapat apresiasi dari Engelin Y. Kardinal, salah satu tokoh perempuan Papua Barat Daya yang dikenal aktif dalam pemberdayaan masyarakat dan pelestarian budaya lokal. Ia menilai, acara ini bukan hanya sebuah perayaan, melainkan refleksi identitas dan bentuk nyata dari kesadaran kolektif orang Papua menjaga warisan leluhur mereka.
“Saya memberi apresiasi yang tinggi kepada Jemaat Bethel Doom dan seluruh panitia. Ini bukan hanya kegiatan seremonial, tapi sebuah gerakan budaya yang menunjukkan bahwa Orang Asli Papua memiliki peradaban yang kuat, berakar, dan penuh kasih,” ujar Engelin Y. Kardinal.Kamis (23/10/25)
Ia juga menekankan pentingnya dukungan lintas generasi agar semangat pelestarian budaya tidak berhenti di panggung perayaan semata.
“Anak-anak muda Papua harus melihat ini sebagai ruang belajar. Dari seni dan budaya, kita bisa menemukan jati diri, kekuatan, dan cara untuk tetap bersatu di tengah keberagaman,” tambahnya.
Selama tiga hari pelaksanaan, kegiatan akan terbagi di tiga titik utama Jalan Poros Distrik Sorong Kepulauan untuk parade budaya dan jalan santai,Lapangan Merdeka Doom sebagai pusat pameran dan panggung pementasan seni,
Kegiatan dimulai setiap hari pukul 09.00 hingga 22.00 WIT. Panitia melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari jemaat GKI Bethel Doom, pelajar sekolah minggu, seniman lokal, hingga perwakilan pemerintah daerah Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Raja Ampat, dan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya.
Momentum peringatan 1 Abad Peradaban Orang Asli Papua dan 69 Tahun GKI di Tanah Papua menjadi kesempatan istimewa untuk merefleksikan perjalanan iman dan kebudayaan masyarakat Papua.
Dalam catatan panitia, kegiatan ini juga menjadi ajang memperkuat solidaritas lintas etnis dan denominasi, serta menegaskan peran GKI sebagai bagian tak terpisahkan dari dinamika sosial-budaya masyarakat Papua.
“Melalui seni dan budaya, kita memuliakan Tuhan atas sejarah dan penyertaan-Nya bagi Orang Asli Papua dan GKI,” demikian salah satu poin dalam panduan kegiatan.

Dengan semangat itu, Pulau Doom akan kembali menjadi pusat denyut kebudayaan tempat di mana doa, tarian, dan nyanyian berpadu, menandai babak baru perjalanan peradaban orang asli Papua di bawah naungan kasih dan keberagaman.(ARY)


















































