Koran Online, KOTA SORONG – Gereja Katolik di Kota Sorong menyerukan dukungan aktif terhadap program-program pemerintah yang berpihak pada kesejahteraan rakyat, terutama Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu prioritas nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Seruan ini muncul dalam kegiatan Katakese (pembinaan iman Katolik) bertema “Iman yang Hidup Mewujudkan Kasih Allah Melalui Dukungan pada Program Pemerintah untuk Kesejahteraan Bersama”, yang digelar di Stasi St. Yosef Freinademetz Malasilen, Paroki Santo Arnoldus Janssen Malanu, Jumat malam (9/10/2025).
Kegiatan yang berlangsung pukul 19.00 hingga 21.00 WIT itu dipimpin oleh Pater Krispianus Panda Lewa, SVD, dan dihadiri sekitar 50 orang muda Katolik (OMK) serta tokoh umat setempat. Dalam pemaparannya, Pater Krispianus menegaskan bahwa iman yang hidup tidak berhenti pada doa dan ritual, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa manfaat sosial.
“Gereja memiliki peran moral untuk mendukung kebijakan yang membawa kebaikan umum. Ini bukan soal politik, tetapi iman yang diwujudkan dalam tindakan kemanusiaan,” ujarnya.
Menurutnya, program MBG merupakan bentuk nyata perhatian pemerintah terhadap pemenuhan gizi anak-anak sekolah, terutama di Papua yang masih menghadapi keterbatasan pangan dan fasilitas pendidikan. Ia menilai kebijakan tersebut sejalan dengan semangat gereja untuk memperjuangkan keadilan sosial dan kesejahteraan bersama.
“Program ini perlu kita kawal bersama. Gereja, sebagai bagian dari masyarakat, terpanggil untuk memastikan agar kebijakan yang baik benar-benar menyentuh rakyat kecil,” kata Pater Krispianus menambahkan.
Dalam sesi diskusi yang digelar setelah pemaparan, peserta menunjukkan antusiasme tinggi. Sebagian besar mengapresiasi program MBG yang dinilai menyentuh kebutuhan dasar masyarakat kecil, terutama bagi anak-anak di wilayah pedalaman Papua.
Namun, sejumlah peserta juga memberikan catatan kritis terkait pelaksanaan teknis di lapangan. Mereka menyoroti mekanisme dapur umum yang memasak hingga 3.000 porsi per hari, yang dinilai berisiko menyebabkan makanan cepat basi dan distribusi tidak merata.
“Kami mengusulkan agar jumlah dapur dan tenaga masak ditambah di setiap distrik atau kampung, supaya makanan bisa sampai ke anak-anak tepat waktu dan dalam kondisi layak,” ujar matius salah seorang peserta.
Peserta lain menekankan pentingnya pengawasan langsung dari pemerintah daerah maupun pusat. Mereka berharap pejabat tak hanya meninjau lewat laporan administratif, tetapi benar-benar hadir memantau pelaksanaan di lapangan.
“Jangan sampai program ini bagus di atas kertas tapi tidak sampai ke masyarakat kecil,” kata seorang tokoh umat Malasilen.
Dalam refleksinya, Pater Krispianus juga mengajak kaum muda Katolik di Papua menjadi pelopor kebaikan dan jembatan antara masyarakat dan pemerintah. OMK, katanya, harus aktif tidak hanya dalam kegiatan rohani, tetapi juga dalam program sosial, ekonomi, dan pembangunan yang membawa manfaat bagi sesama.
Kegiatan yang berlangsung hingga malam itu ditutup dengan doa bersama dan makan malam sederhana. Para peserta sepakat untuk terus mengawal pelaksanaan Program MBG di wilayah Sorong agar berjalan transparan, adil, dan tepat sasaran.
Acara ini juga menegaskan peran Gereja sebagai mitra moral pemerintah dalam memastikan kebijakan publik berpihak pada masyarakat kecil. Warga berharap kegiatan sosialisasi semacam ini dapat dilakukan rutin di tingkat stasi atau kampung agar masyarakat memahami tujuan program pemerintah dan ikut terlibat aktif dalam pengawasannya.(ARY)


















































