Koran Online, SORONG– Suasana Aimas pada 2-5 September 2025 berbeda dari biasanya. Puluhan seniman, pelajar, dan pegiat budaya berkumpul dalam Pelatihan Pembuatan Alat-Alat Seni dan Musik Tradisional yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sorong.
Dalam kurun waktu singkat, hanya dua hari, para peserta berhasil menciptakan beragam alat musik khas Papua. Dari cukkele, string bass, hingga tifa sebagai ikon musik tanah Papua, semua lahir dari tangan-tangan terampil peserta.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sorong, Jonathan Simaela, mengapresiasi semangat peserta.
“Ini luar biasa. Hanya dalam dua hari mereka bisa hasilkan karya nyata. Bukan sekadar latihan, tapi ini bukti bahwa talenta musik Papua lahir dari kodrat alam. Ke depan, kami akan dorong agar karya ini punya nilai ekonomis, bahkan menarik investor,” ujarnya.
Kegiatan ini bukan sekadar soal teknik membuat alat musik, melainkan juga menanamkan kesadaran budaya. Seperti pepatah lama, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Bagi masyarakat Papua, seni dan musik tradisional adalah jati diri yang tidak boleh hilang.
Musik tradisional bukan sekadar hiburan, melainkan identitas bangsa. “Jangan sampai perubahan zaman membuat kita lupa akar budaya kita. Musik tradisional adalah napas kita, doa kita, sekaligus kebanggaan kita,” tambah Jonathan.

Pelatihan ini juga membuka ruang pembinaan bagi komunitas dan sanggar seni yang ada di Kabupaten Sorong. Selama ini, alat musik seperti ukulele telah masuk sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah. Namun, lebih dari sekadar kewajiban, musik di Papua lahir secara alami.
“Anak-anak Papua sudah lahir dengan talenta musik. Tidak perlu menunggu formalitas kelas, mereka sudah bisa bernyanyi, bisa bermain ritme. Tinggal bagaimana kita sebagai orang tua, guru, dan pemerintah memberi ruang agar talenta itu terasah,” jelasnya.
Di tengah derasnya arus digital, banyak anak muda lebih memilih musik instan dari gawai ketimbang belajar dari akar tradisi. Inilah yang menjadi tantangan.
Karena itu, pelatihan ini diharapkan bukan berhenti saat acara usai, melainkan berlanjut dalam festival-festival budaya berikutnya. “Harapan kami, setelah pelatihan ini, semua peserta ikut aktif dalam lomba atau festival kebudayaan. Jangan berhenti di sini. Kita harus tunjukkan pada Indonesia, bahkan dunia, bahwa Papua punya suara sendiri,” tegas Jonathan.
Merawat Warisan, Membangun Masa Depan
Dari tifa yang ditabuh di pesisir, hingga tiupan bambu dari pegunungan Jayawijaya, setiap nada adalah jejak sejarah. Kini, lewat pelatihan ini, jejak itu bukan sekadar dikenang, melainkan dihidupkan kembali.Musik tradisional Papua bukan sekadar warisan, tetapi jalan menuju masa depan. (ARY)


















































