Koran Online SORONG –Keberlangsungan organisasi keagamaan lokal kembali mendapat sorotan usai pernyataan tegas dari istri almarhum Stefanus Malak sekaligus anggota DPRD Provinsi Papua Barat Daya Nansy Prisillia Karundeng dalam pernyataannya menegaskan pentingnya menjaga eksistensi Gabungan Majelis Taklim (GMT) sebagai ruang dakwah dan pembinaan umat, sekaligus mendorong pengurus baru di Provinsi Papua Barat Daya untuk melanjutkan perjuangan dengan integritas.
“Organisasi ini harus terus hidup. Ia lahir dari semangat melayani umat, dan telah menjadi cahaya bagi banyak orang, terutama bagi saudara-saudara kita yang baru mengenal Islam,” ujarnya, Kamis (07/08/25).
Sebagai pendamping hidup almarhum Stefanus Malak, sosok penting di balik lahirnya GMT sejak 2009 yang awalnya berdiri di Kabupaten Sorong, ia menyebut organisasi ini tidak hanya sebagai wadah ibu-ibu muslimah, tetapi juga sebagai ruang pendidikan iman, solidaritas sosial, hingga pembentukan karakter keislaman yang rahmatan lil ‘alamin.
Menurutnya, GMT telah menjadi motor penggerak dakwah kultural di wilayah Sorong Raya, dan kini berpotensi menjangkau lebih luas seiring terbentuknya kepengurusan di tingkat provinsi. “GMT hadir bukan hanya di masjid, tapi juga di pelosok kampung. Di tempat-tempat yang jarang dijangkau, GMT hadir dengan guru ngaji, pelatihan spiritual, dan program sosial nyata,” katanya.
Ia mengungkapkan kekhawatiran terhadap isu yang sempat menyebutkan pembubaran organisasi tersebut. Menurutnya, wacana semacam itu berpotensi melemahkan semangat pengabdian dan merusak kepercayaan masyarakat yang telah merasakan manfaat langsung dari berbagai kegiatan GMT.
“Saya tegaskan, GMT adalah organisasi yang sah secara hukum. Ia memiliki pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM. Lebih dari itu, ia telah menumbuhkan nilai keberagamaan di tengah masyarakat yang plural,” ujarnya.
Sebagai penasihat GMT dan juga anggota DPRD Provinsi Papua Barat Daya, ia menyatakan bahwa peran organisasi keagamaan seperti GMT menjadi semakin penting di tengah tantangan sosial yang kompleks, termasuk maraknya disinformasi agama, degradasi moral generasi muda, dan lemahnya akses dakwah di daerah terpencil.
“Di Papua Barat Daya, tidak semua kampung punya akses ke guru ngaji. GMT menjawab itu. Mereka tidak menunggu, tapi justru datang membawa cahaya. Ada pula program sunatan massal, pelatihan penguatan iman bagi mualaf, dan pengajian rutin yang dikemas dengan pendekatan budaya lokal,” jelasnya.
Tak lupa, ia memberikan apresiasi kepada Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu dan Wakil Gubernur Ahmad Nausrau, S.Pd.I., MM, yang dinilainya telah menunjukkan kepedulian terhadap penguatan organisasi keagamaan sebagai bagian dari pembangunan manusia.
“Saya berterima kasih kepada Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur atas respon cepat mereka terhadap dinamika GMT. Dukungan pemerintah sangat penting agar organisasi seperti ini tidak kehilangan ruh perjuangannya,” kata dia.
Ia juga menitipkan pesan khusus kepada para pengurus baru GMT Provinsi Papua Barat Daya yang telah dilantik agar senantiasa memelihara semangat awal organisasi dan tidak terjebak pada rutinitas seremonial semata.
“Jangan lupa ruhnya. GMT itu lahir dari semangat melayani, bukan dilayani. Maka kepengurusan baru ini harus menjadi energi baru membuka ruang lebih luas bagi perempuan muslimah untuk berdakwah, mendidik, dan membina umat,” tegasnya.
Di akhir pernyataan, ia menegaskan harapannya agar GMT tidak hanya menjadi organisasi keagamaan biasa, tetapi juga pelopor peradaban, pelindung nilai-nilai kemanusiaan, dan jembatan spiritualitas yang kokoh di Papua Barat Daya. (ARY)


















































