Koran Online,SORONG -Suasana hangat dan akrab terasa di sebuah kedai kopi di kawasan Sungai Maruni, Kilometer 10, Kota Sorong, Jumat pagi, 25 Juli 2025. Di sana, sejumlah wartawan dari berbagai media duduk bersama jajaran Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Papua Barat Daya dalam sebuah agenda informal: coffee morning.
Namun, pertemuan ini bukan sekadar berbagi secangkir kopi. Di balik suasana santai, terselip agenda besar: memperkuat sinergi antara dunia pers dan lembaga intelijen dalam menjaga stabilitas informasi di wilayah paling barat Papua.
Kepala BIN Daerah (Kabinda) Papua Barat Daya, Brigjen TNI I Ketut Arthajaya, menegaskan pentingnya kolaborasi dengan media dalam menyebarkan informasi yang konstruktif di tengah derasnya arus digital.
“Media adalah pilar penting dalam pembangunan dan penyebaran informasi yang sehat. Apalagi di era digital seperti sekarang, narasi positif menjadi benteng pertama melawan disinformasi,” tegas Arthajaya.
Ia mengingatkan, saat ini masyarakat tengah menghadapi gelombang hoaks dan disinformasi yang masif. Tanpa kehadiran media yang berintegritas dan kritis, kata Arthajaya, ruang publik akan dipenuhi pesan-pesan menyesatkan yang merusak tatanan sosial.
“Kami sangat menghargai kerja-kerja media dalam melakukan verifikasi fakta dan memberikan edukasi kepada publik. Ini bukan sekadar soal pemberitaan, tapi juga soal tanggung jawab sosial,” ujarnya.
Coffee morning ini, menurut Kabinda, menjadi salah satu langkah awal membangun komunikasi yang lebih terbuka dan sinergis antara BIN dan insan pers. Ia berharap forum seperti ini bisa menjadi ruang diskusi yang produktif dan berkelanjutan.
“Kami ingin relasi ini tidak berhenti di sini. Ke depan, kita bisa bekerja sama dalam banyak kegiatan positif yang bermanfaat untuk masyarakat luas,” tambahnya.
Di sisi lain, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Papua Barat Daya, Wahyudi, menyambut baik ajakan silaturahmi ini. Ia mengapresiasi keterbukaan BIN dalam membangun komunikasi dengan kalangan pers.
“Pertemuan ini penting agar ada ruang saling mengenal dan memahami peran masing-masing. Kami wartawan tetap akan kritis, tapi juga mendukung setiap program pemerintah yang pro rakyat,” ujar Wahyudi.
Ia menegaskan, pers memiliki dua wajah yang saling melengkapi: sebagai mitra dalam pembangunan, sekaligus kontrol sosial terhadap setiap kebijakan. “Kami bukan oposisi, tapi pengingat. Di situlah letak fungsi strategis pers dalam demokrasi,” pungkasnya. (AR)


















































