Koran Online, SORONG -Rasa kecewa yang memuncak akibat lambannya penanganan jalan rusak di Jalur A1, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, mendorong warga setempat melakukan aksi protes yang tak biasa namun menyentak perhatian publik. Sebagai bentuk sindiran terhadap pemerintah daerah, warga menanam 16 pohon pisang dan satu pohon tebu tepat di tengah jalan berlubang yang tak kunjung diperbaiki.
Aksi yang berlangsung spontan ini menggunakan perlengkapan seadanyamulai dari batu, ban bekas, hingga ember dan tempat sampah sebagai penyangga pohon. Tak ayal, pemandangan tersebut menarik perhatian pengguna jalan. Banyak yang berhenti sejenak untuk mengambil foto dan membagikannya di media sosial.
Ketua RT 004, Sarmadi, mengaku tidak mengetahui rencana aksi tersebut sebelumnya. Ia mengatakan, aksi tanam pohon dilakukan secara spontan oleh warga yang merasa sudah terlalu lama menunggu janji perbaikan.
“Saya juga kaget, tiba-tiba sudah ada pohon-pohon berdiri di tengah jalan. Tapi saya langsung berkoordinasi dengan beberapa warga untuk mencari solusi bersama,” ujar Sarmadi saat ditemui di lokasi.
Sarmadi berharap masyarakat dapat bersabar dan memberi kesempatan kepada pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Bupati Johny Kamuru dan Wakil Bupati Ahmad Tedjo, yang menurutnya masih berada dalam masa awal kepemimpinan. Ia optimistis langkah konkret akan segera diambil.
Sementara itu, Ketua RT 005, Ibu Sinta, yang wilayahnya berdekatan dengan lokasi aksi, juga dibuat repot karena aksinya viral.
“Saya tidak diberi tahu sebelumnya. HP saya sampai lowbat karena terus-menerus menerima telepon dan pesan,” ujarnya.
Ibu Sinta menambahkan bahwa pihak RT sebenarnya telah beberapa kali mengajukan permohonan perbaikan jalan dan drainase ke instansi terkait. Namun, ia menyadari bahwa proses birokrasi membutuhkan waktu dan berharap warga tidak mengambil tindakan yang bisa memperkeruh suasana.
Kerusakan jalan di Jalur A1 memang sudah berlangsung lama. Saat musim hujan, lubang-lubang besar di jalan terisi air, meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengguna jalan. Aspirasi telah disampaikan berulang kali, namun belum mendapat respons nyata dari pihak berwenang.
Aksi tanam pohon ini bukan sekadar luapan kekecewaan, melainkan simbol peringatan keras bahwa kebutuhan dasar masyarakat, seperti infrastruktur jalan, harus menjadi prioritas. Jalan yang baik bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga menyangkut keselamatan dan kelancaran aktivitas warga sehari-hari.
“Kami tidak berniat membuat kerusuhan. Kami hanya ingin didengar. Kalau jalan ini diperbaiki, kami tak akan menanam pohon pisang lagi,” ujar salah satu warga yang terlibat dalam aksi.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa aksi tersebut menarik perhatian sejumlah pejabat daerah. Hadir di lokasi antara lain anggota DPRD Kabupaten Sorong Herry Widyaprasetya dan Nurtina Lasaka, serta Kepala Distrik Aimas, Yober S. Matana.

Lurah Malawili, Yohanis Waimbo, menyayangkan aksi tersebut. Ia mengaku telah menyampaikan keluhan masyarakat kepada pemerintah baik secara lisan maupun administratif.
“Terus terang, saya sedikit malu. Sebelumnya kami sudah mengusulkan perbaikan jalan ini, tapi semua harus melalui prosedur. Saya berharap warga bersabar, apalagi saat ini anggota dewan sudah turun langsung ke lapangan untuk mengawal aspirasi ini,” ujar Yohanis.
Ia juga menyayangkan kurangnya komunikasi dari warga sebelum aksi dilakukan. Menurutnya, sinergi antara masyarakat dan pemerintah sangat penting agar tidak terjadi kesalahpahaman.
“Masa kerja bupati dan wakil bupati baru belum genap 100 hari. Kalau konfirmasi ke RT saja tidak ada, bagaimana sampai ke lurah dan distrik? Ini yang sangat saya sayangkan,” tegasnya.
Kepala Distrik Aimas, Yober S. Matana, menyatakan bahwa aksi ini telah disampaikan langsung kepada Bupati dan Wakil Bupati Sorong, dan diharapkan menjadi perhatian bersama.
“Permasalahan publik seperti ini harus disikapi dengan komunikasi yang baik, agar tidak terjadi miskomunikasi. Kita semua punya peran dalam mengawal pembangunan di Kabupaten Sorong,” ujarnya.
Yober juga memastikan bahwa pada Senin (26/05/25) ia akan bertemu dengan pejabat terkait untuk membahas persoalan ini lebih lanjut.
Meski sempat berlangsung alot, pertemuan antara warga, RT, RW, lurah, anggota dewan, dan kepala distrik berlangsung dalam suasana aman dan penuh pengertian. Akhirnya, pohon pisang dan tebu yang ditanam sebagai bentuk protes dicabut kembali oleh warga.

Kini, masyarakat berharap aksi simbolik ini menjadi titik awal perubahan nyata. Mereka menunggu tindak lanjut dari pemerintah, terutama dalam perbaikan infrastruktur jalan khususnya penanganan banjir di wilayah mereka.(ARY)


















































