Koran Online,SORONG – Suasana di Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong memanas pada Jumat siang (23/5/25), ketika puluhan mahasiswa dari tiga organisasi besar Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Perhimpunan Mahasiswa Kristen Republik Indonesia (PMKRI)menggelar aksi protes besar-besaran.
Dengan membawa megafon, spanduk bertuliskan tuntutan, dan tali rafia, massa melakukan longmarch dari depan jalan kampus menuju halaman utama. Sekitar pukul 14.15 WIT, spanduk seperti “Stop Premanisme di Halaman Kampus” dan “Stop Premanisme di Lingkup Akademik” terbentang lebar di tengah kerumunan.
Sebagai bentuk kemarahan, aksi ini juga diwarnai dengan pembakaran ban bekas di sekitar area kampus. Asap hitam pekat mengepul tinggi, menarik perhatian sivitas akademika dan warga sekitar.
Mereka mengecam dugaan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum terhadap kader organisasi mahasiswa saat aksi sebelumnya, serta menuntut pencopotan pihak-pihak yang dianggap memprovokasi dan melakukan kekerasan.
Ketua GMNI Cabang Sorong, Yeskiel, dengan tegas menyuarakan kekecewaannya. “UNIMUDA adalah lembaga ilmiah yang seharusnya berpihak pada suara mahasiswa. Sistem premanisme ini tidak boleh dibiarkan hidup di dalam kampus,” ujarnya dalam orasi.
“Satu kata untuk kekerasan terhadap kader kami: lawan,” tegasnya lagi, sembari menuntut agar rektor segera menindak para pelaku kekerasan.
Sekretaris Umum HMI Cabang Sorong juga menambahkan bahwa aksi ini murni lahir dari keresahan mahasiswa dan bukan dipolitisasi. Ia menuntut pelaku pemukulan terhadap kader HMI dihadirkan secara langsung di hadapan massa.
“Masalahnya adalah adanya dosen yang memprovokasi hingga terjadi pemukulan terhadap kader kami. Ini tidak bisa kami tolerir,” katanya.
Massa juga mengancam akan memalang pintu masuk dan ruangan kampus apabila tuntutan mereka diabaikan.
Namun hingga pukul 16.30 WIT, belum satu pun perwakilan pihak kampus yang keluar menemui massa aksi atau memberikan tanggapan resmi atas tuntutan yang disuarakan.
Perwakilan PMKRI Cabang Sorong, Fahrizal, menegaskan bahwa lembaga pendidikan seharusnya membentuk pendidik yang membangun nalar kritis, bukan justru mendorong tindakan represif.
“Ini urusan intelektual, harus diselesaikan dengan pemikiran rasional. Jangan jadikan kampus ring tinju. Satu kata dari kami: lawan,” ujarnya lantang.
Aksi ini menjadi peringatan keras bagi pihak kampus untuk segera mengambil langkah konkret dalam menyikapi persoalan, sebelum gejolak semakin meluas.Hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan resmi dari pihak Unimuda terkait prihal peristiwa yang terjadi. (ARY)


















































