SORONG, Koran Online – Bertempat di Aula Serbaguna IAIN Sorong, Pimpinan Wilayah Fatayat Nahdlatul Ulama (PW Fatayat NU) Provinsi Papua Barat Daya menggelar pelantikan dan rapat kerja wilayah (Rakerwil) pada Sabtu, 17 Mei 2025. Acara ini mengusung tema besar “Organisasi Digdaya, Perempuan Berdaya dan Berkarya”.
Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU, Hj. Margaret Aliyatul Maimunah, dan dihadiri oleh para pengurus wilayah, cabang, serta tamu undangan dari berbagai elemen masyarakat dan pemerintahan daerah.
Dalam sambutannya, Ketua PW Fatayat NU Papua Barat Daya, Siti Syamsiah, mengawali dengan puji syukur kepada Allah SWT dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ia menjelaskan bahwa Fatayat NU adalah organisasi perempuan muda NU yang berpegang pada prinsip moderat dan toleran dalam memahami ajaran Islam serta memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan.
Syamsiah menyampaikan bahwa PW Fatayat NU Papua Barat Daya baru terbentuk pada 6 Oktober 2024 dan secara resmi menerima SK kepengurusan pada Desember 2024. Meskipun baru berusia beberapa bulan, pihaknya telah berhasil membentuk lima kepengurusan cabang di Kabupaten Sorong, Kota Sorong, Sorong Selatan, Raja Ampat, dan Maybrat.
Sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat, PW Fatayat NU Papua Barat Daya telah menjalankan berbagai program, antara lain santunan untuk anak yatim di Kota dan Kabupaten Sorong pada 26 Maret 2025, serta kegiatan “Ngaji Budaya” pada 24 April 2025 yang digagas oleh Fatayat NU Kabupaten Sorong bekerja sama dengan Pemerintah Australia dalam upaya pencegahan perkawinan anak. Isu ini menjadi fokus perhatian Fatayat karena berkontribusi terhadap tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Tidak hanya itu, Fatayat NU Papua Barat Daya juga telah menggelar Latihan Kader Dasar (LKD) pada 15–17 Mei 2025, diikuti oleh 50 peserta dari enam kabupaten/kota. “Kami ingin memastikan bahwa kader-kader Fatayat di Papua Barat Daya memiliki pemahaman keorganisasian dan keislaman yang kuat,” ujar Syamsiah. Ia menegaskan bahwa sinergi dengan pemerintah daerah sangat penting, dan Fatayat NU siap menjadi mitra strategis dalam menyukseskan pembangunan daerah, khususnya di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU, Hj. Margaret Aliyatul Maimunah, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas terselenggaranya pelantikan serta pelatihan kader di provinsi termuda Indonesia ini. Ia menegaskan bahwa perempuan adalah kelompok istimewa yang memiliki peran strategis, baik sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai profesional.
“Apapun pilihan perempuan—menjadi ibu rumah tangga atau bekerja—semuanya adalah pilihan yang istimewa. Yang terpenting adalah perempuan harus terus belajar dan meningkatkan kualitas diri,” ujarnya. Margaret menekankan bahwa menjadi ibu rumah tangga bukan berarti berhenti belajar, karena dari tangan perempuanlah lahir generasi penerus bangsa.
Ia juga menyampaikan bahwa partisipasi perempuan dalam pembangunan sangat penting. Dengan jumlah penduduk Indonesia mencapai 285 juta jiwa pada 2025, sekitar 140 juta di antaranya adalah perempuan. Maka, menurutnya, jika perempuan tidak dilibatkan secara aktif dalam pembangunan, maka bangsa ini akan pincang.
Dalam arahannya, Margaret menekankan tiga pilar utama yang harus menjadi fokus PW Fatayat NU Papua Barat Daya:
1. Penguatan Struktur Organisasi:
Pembentukan kepengurusan tidak hanya di tingkat kabupaten/kota, tapi juga hingga ke tingkat kecamatan, desa, atau distrik yang memungkinkan. Penguatan ini tidak berhenti pada pembentukan, tapi juga peningkatan kapasitas dan manajemen organisasi.
2. Penguatan Kaderisasi:
Kegiatan kaderisasi harus dilakukan secara berkelanjutan dan merata. Ia menekankan pentingnya memfasilitasi seluruh anggota agar mengikuti jenjang kaderisasi secara tuntas, dari dasar hingga lanjutan.
3. Penguatan Gerakan dan Program Berbasis Isu:
Program Fatayat harus berangkat dari permasalahan riil di masyarakat, khususnya yang menyangkut perempuan dan anak. Ia menekankan pentingnya inovasi program dan tidak hanya meniru program pusat.
Selain itu, Margaret memperkenalkan program Majelis Taklim Fatimah Zahra, sebuah gerakan nasional Majelis Taklim yang wajib dibentuk minimal di tingkat cabang. Ia juga menyinggung pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam manajemen organisasi dan pelaksanaan program.
Di akhir sambutannya, Margaret mengungkapkan rasa syukur bahwa dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, pergerakan Fatayat NU di tanah Papua menunjukkan kemajuan yang luar biasa.
“Fatayat NU hari ini bukan hanya hadir sebagai organisasi perempuan, tetapi menjadi kekuatan moral, sosial, dan spiritual yang siap membangun peradaban,” pungkasnya.
Acara pelantikan dan Rakerwil ini menjadi momentum penting dalam sejarah berdirinya Fatayat NU di Papua Barat Daya. Semangat digdaya dan berkarya terus digaungkan sebagai bentuk komitmen membangun perempuan Indonesia yang berdaya dan kontributif bagi bangsa dan negara. (ARY)


















































